Kamis, 22 Juni 2017







Sebuah Catatan yang Tertinggal;

Suatu Pengalaman Antropologi Kesadaran 





Dalam kurun waktu setahun belakangan ini, aku secara personal bertemu dengan beberapa homo academicus yang setidaknya berada dalam ranah ilmiah; seniman, politisi, penyintas, dosen, aktivis dengan beragam latar belakang. Suatu keuntungan untuk dapat saling bertukar pendapat dengan mereka tersebut walaupun terdapat sedikit ke-enggan-an untuk berbicara lebih lanjut, terlebih pada isu politik yang telah berhasil menciptakan dikotomi secara permanen medio 2014 yang lalu.
Awalnya aku berpegang teguh pada pandangan "setiap akademisi akan mampu berfikir secara kritis dan bertanggung jawab," begitulah yang kuyakini, walau pada suatu pembicaraan dengan seorang kerabat alumni perkuliahan mengatakan "tak semua seperti itu, ini hidup bang !" begitu katanya padaku. Seperti cairan pemutih yang kerap dipergunakan untuk membersihkan noda, kalimat kerabat itu berhasil membersihkan pemikiranku dari bias idealis pemikiran.
Begitu pula ketika bercengkrama dengan beberapa rekan antropolog yang aku perkirakan mampu menerjemahkan konsepsi kesetaraan dan mengurangi sikap seksism, namun tetap saja hal tersebut dilakukan dengan selubung lelucon (ada pembaharuan konsep mitos, folklor apabila boleh diperbandingkan antara pemikiran hal tersebut oleh Danandjaja beberapa waktu yang lalu dengan kondisi ke-kini-an). Tak jauh berbeda ketika pembicaraan mengenai kondisi sosio-kultural masa kini yang dipenuhi beragam fenomena; LGBT, distribusi kuasa, ketimpangan dan lain sebagainya yang harus disikapi secara jitu dengan meletakkan pada bahagian yang sesuai dan tak secara serabutan menyambungkannya dengan aspek lainnya yang berpotensi meluluhlantakan konstruksi ilmiah dengan paradigma "ke-gaib-an."
Satu pesan yang kuingat dari kerabat antropolog asal negeri matahari terbit ketika berkunjung ke Medan beberapa tahun silam "It was obvious that you have been to manu cultural events/occasions and you know how to be invisible when needed . . ." yang menguatkan pentingnya memahami arti antropologi tak hanya sekedar tumpukan buku, konsepsi teoritik melainkan pengalaman hidup yang kaya dan menguatkan esensi seorang antropolog sebagai individu yang hidup, mencicipi kehidupan; pahit, manis, asin, dan asam yang beraneka rasa tanpa perlu jatuh pada satu rasa saja.

Selasa, 17 Januari 2017

Elegi Trembesi; Bicara Sore



Kemarin sore bertemu dengan beberapa teman, diantaranya seorang seniman lukis, seorang sastrawan dan seorang lagi arsitek. Perbincangan sore yang renyah diselingi canda-tawa dan 'tak lupa pada hakikat pertemuan mengenai kesepahaman mengenai lanskap perkotaan yang kini 'tak lagi ramah kepada masyarakatnya.
Sejatinya, lanskap perkotaan adalah praktikal dari kebutuhan masyarakatnya, seperti halnya konsepsi publicsphere yang didengungkan oleh Habermas dari mazhab Frankfurt. Publicsphere yang menjadi ruang interaksi masyarakat dalam konteks kehidupan, ruang-ruang publik terbuka yang menjadi pertemuan antar individu.
Kini, alangkah mirisnya ketika pertemuan demi pertemuan formal dan informal dilakukan di ruang-ruang publik tersekat, seperti halnya mall, plaza yang bergeser di negeri ini menjadi ruang transaksi ekonomi semata. Menjadi lebih miris ketika melihat relasi antara aparat pemerintah dan akademisi yang jarang sepaham kecuali pada rapat-rapat setengah meja dan segelintir sahaja.
Pemantik kejadian adalah tumbangnya pohon trembesi yang telah sekian lama menemani pekembangan menjadi sebentuk kota 'metro-polit-an,' pohon-pohon yang dulunya menaungi para pejalan kaki, becak dan bendi yang melintasi gedung balaikota menuju kawasan pecinan atau menyeberang melintasi Esplanade menuju stasiun kereta api.
Alangkah naif, pohon-pohon tersebut “dipaksa” tunduk pada keinginan segelintir penguasa dengan merubahnya menjadi kawasan kuliner-ekonomis yang awalnya mendukung perkembangan kuliner lokal menjadi kuliner global 'tak bergizi. Mereka yang dulu bernaung dibawah rindangnya pepohonan kini berubah menjadi kerindangan pohon yang meranggas menjadi lahan parkir (!). Pepohonan yang mendesak keluar akarnya di-bonsai dengan tutupan lantai yang disemen dan juga conblock, atau mungkin sedikit lihai akan terlihat juga jejeran “rumah singgah burung” yang dipaksa masuk dalam ranah pikiran kompleks manusia terhadap kebutuhan primernya mengenai tempat berteduh.
Dari pembicaraan itu, sebenarnya telah kupikirkan mengenai konsepsi “rumah panggung” menjadi dasar pembangunan ruang terbuka hijau. Suatu konsep dengan memberikan dasar pelat baja dengan rangka baja pula yang menjadi dasar dan berada diatas ketinggian sekitar 1,5 meter dari tanah sehingga respirasi pohon tetap ada dan pepohonan yang menjulang menembus sela-sela sekat baja menjadikan interaksi yang apik layaknya ruang terbuka bercengkrama manusia dengan tumbuhan.

Mungkin, dan ini kemungkinan penguasa kota terlalu banyak mengonsumsi buah Durian, karena yang terlalu itu berakibat 'tak baik dapat menjadi naik tensi, menjalar ke lambung, stroke, serangan jantung sehingga nantinya mereka akan mudah marah, selain tekanan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab sosialnya juga tekanan keluarga yang tanggungan moralnya. Tapi, jangan pula penguasa kota ini kemudian nantinya mati karena sakit dan diucapkan “semoga sakitnya menjadi penebus dosa-dosanya,” yang akan kujawab singkat “udah senget klen !.”





Medan, Selasa 17 Januari 2017.

Kamis, 12 Januari 2017

Medan Pertarungan; Ruang Publik dan Invenire


Medan Pertarungan; Ruang Publik dan Invenire



Avena Matondang




Mendayagunakan pendapat Habermas1(1987:319), ruang publik adalah cara menyalurkan kompleksitas kebudayaan sehingganya ruang publik adalah ruang sosial interaksi yang dikonstruksikan oleh ekologi kehidupan manusia.
Mungkin akan berbeda ketika melihat ruang publik Kota Medan yang dijajah oleh keinginan penguasa, semisal trotoir jalan yang tidak berfungsi seperti sediakala atau bahkan menjadi objek okupasi ketua-ketua kecil dengan beragam dalih.
Dalam hal ini, ruang publik adalah perebutan ruang yang memerlukan keinginan kuat untuk menjadikan ruang publik menjadi milik publik seutuhnya, baik dengan bentuk kerjasama internal antar-publik maupun kerjasama dengan institusi pemerintah (walau tidak bisa berharap lebih pada bentuk kerjasama ini !.)
Selayaknya kata “M-E-D-A-N” yang merupakan arena, atau gelanggang yang tiap-tiap orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mempertunjukkan sesuatu hal, menjadi sangat terbatas dengan campur tangan pemerintah dan pengusaha yang lebih mengedepankan tata ruang kota yang menjanjikan secara ekonomis dibandingkan tata ruang yang humanis.


Ruang Publik
Begitu banyak ruang publik tersebar di Kota Medan dan sebanding pula dengan keterbatasan terhadap akses ruang publik, sejatinya ruang publik adalah ruang interaksi antar masyarakat yang tidak tersekat oleh aspek fisik dan non-fisik. Walau seperti menceritakan dongeng sebelum tidur, ada baiknya juga kisah beragam ruang publik yang dapat didayagunakan seperti layaknya gedung Warenhuis yang dapat menjadi annex building yang kini kosong menjadi lapak para “raja kecil,” taman-taman kota yang menjadi penyegar dan kini menjadi “objek kreatifitas” pemerintah dengan beragam kebijakan “lucu” sekedar bertanam bunga, membangun tempat ibadah ataupun menyediakan sangkar burung ! Sebagaimana pemerintah menjadikan panggung rakyat yang mengokupasi jalan menjadi ruang publik.
Ruang publik seharusnya menjadi ruang yang dibentuk oleh publik, dikarenakan ekologi publik2dengan segala atribusinya yang membentuk ruang tersebut menjadi ruang sosial.


Invenire
Invasi terhadap terbukanya ruang publik adalah suatu keharusan yang dilakukan dengan beragam cara, bukankah publik juga memiliki kuasa? Setidaknya dengan meminimalisir ketergantungan terhadap sistem pemerintahan, publik menjadikan ruang-ruang tersebut sebagai sarana umum.
Segerombolan anak muda sudah memulai invasi ruang publik tersebut, walau tingkatan pengetahuan dan aksepbiliti masih bergantung pada tingkat usia. Sebut saja anak muda yang bergerombol tiap minggu menjadikan ruang terbuka sebagai lapak membaca atau segerombolan anak muda yang mencorat-coret dinding-dinding bangunan untuk menyuarakan ruang publik yang tak kunjung terbuka.
Cara-cara tersebut memang rentan terhadap penilaian dan cenderung dilihat sebagai aksi negatif namun segerombolan anak muda itu sudah muak dan bosan dengan cakap-cakap sehingganya bertindak secara agresif untuk melakukan invasi ruang publik daripada sekedar ruang kedai kopi semata.
Invasi ruang publik dapat diwujudkan dengan beragam cara dan konsistensi yang tinggi, secara kasat mata dapat dilihat segerombol anak muda yang kini gandrung menginisiasi invasi ruang publik dengan cara mereka sendiri, hal ini perlu diapresiasi dan menjadi pembelajaran bahwa invasi terhadap ruang publik mampu dilakukan.


1Habermas, Jurgen. 1987. The Theory of Communicative Action, Volume Two—The Critique of Functionalist Reason, Cambridge: Polity.

2Waltraud, Kokot. 2006. Culture and Space-anthropological approaches in Key Concepts in Social Anthropology; Space. Basel. 

Sabtu, 24 Desember 2016

BAGAS GODANG; Simbol Ornamentasi Rumah Tradisional Mandailing



Pengantar
Individu manusia dari berbagai suku yang tersebar di penjuru dunia memiliki kekayaan tradisi yang sangat beragam, kekayaan tradisi tersebut meliputi : kesenian, pengetahuan lokal, arsitektur, teknologi dan lain sebagainya yang juga berfungsi sebagai suatu penanda atau karakteristik suatu suku. Pemahaman mengenai kekayaan tradisi itu juga mencakup mengenai pengetahuan mengenai tempat tinggal atau pada umumnya dikenal dengan rumah.
Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga memiliki pemaknaan lain yang berkaitan dengan sistem nilai tradisi yang berlaku pada masyarakat tersebut, dalam tulisan ini dibahas mengenai rumah tradisional masyarakat Mandailing. Dalam terminologi masyarakat Mandailing, rumah disebut sebagai bagas godang yang secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah besar.
Bagas godang masyarakat Mandailing memiliki beragam nilai budaya yang tersimpan dalam arsitekural bangunan bagas godang, nilai budaya tersebut berperan sebagai pandangan hidup masyarakat Mandailing.
Tulisan ini membahas mengenai bagas godang masyarakat Mandailing sebagai suatu bentuk rumah tradisional dan juga nilai budaya yang tersimpan pada arsitektural bagas godang.

Kehidupan Masyarakat Mandailing
Masyarakakat Mandailing dikenal sebagai sebentuk etnis yang mendiami wilayah Selatan Tapanuli yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, kebudayaan masyarakat Mandailing secara umum memiliki kedekatan dengan kebudayaan rumpun Batak yang mendiami wilayah Sumatera Utara.
Masyarakat Mandailing dapat dikenali melalui sistem penamaan satu keturunan atau disebut marga, marga inilah yang menjadi bentuk penanda bagi masyarakat Mandailing dan juga sebagai bentuk keterikatan seorang individu terhadap nilai budaya Mandailing. Marga dapat didefiniskan secara sederhana sebagai suatu kelompok individu yang berasal dari suatu keturunan seorang nenek moyang yang sama, dan garis keturunan itu diperhitungkan secara “patrilineal”. Seluruh anggota marga memakai nama marga yang digunakan sesudah nama sendiri dan nama marga tersebut menjadi penanda bahwa orang tersebut memiliki garis nenek moyang yang sama. Marga-marga dalam kehidupan masyarakat Mandailing adalah : nasution, lubis, hasibuan, matondang, dalimunthe, pulungan, rangkuti, batubara, daulae/daulay, tanjung, parinduri, lintang, mardia.
Pada umumnya setiap marga memiliki nenek moyang yang sama, tetapi terdapat sejumlah marga yang berlainan nama tetapi mempunyai nenek moyang yang sama, misalnya marga rangkuti dan parinduri; pulungan, lubis dan harahap; daulae, matondang serta batubara. Untuk dapat mengikat dan mengenali antar individu dalam satu marga dipergunakan silsilah keturunan atau disebut tarombo, melalui tarombo atau silsilah keturunan dapat diketahui nenek moyang bersama sesuatu marga. Dan dari jumlah generasi yang tertera dalam tarombo dapat pula diperhitungkan berapa usia suatu marga atau sudah berapa lama suatu marga tinggal di Mandailing.
Perhitungan mengenai lama suatu marga dapat dihitung melalui jumlah keturunan hingga saat ini, proses keturunan dan marga melahirkan suatu konsep larangan perkawinan bagi marga yang sama karena perkawinan semarga tidak direstui secara adat-budaya Mandailing dan dianggap merusak proses keturunan.
Mengenai penamaan Mandailing sebagai nama etnik setidaknya hal ini merujuk pada penulisan kata “Mandailing” yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama pupuh ke tiga belas yang ditulis oleh Mpu Prapanca, kutipan dari Mulyana (dalam Lubis, 1987:40) menuliskan artian dari kitab tersebut :
"Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M'layu : Jambi, Palembang, Teba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Dasrah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan Kampar dan Pane Kampe Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang Lwas dengan Samudra serta Lamuri ..."




Bagas Godang; Arsitektur Tradisi Masyarakat Mandailing
Rumah tradisional masyarakat Mandailing yang dikenal dengan sebutan bagas godang memiliki aturan tersendiri dalam membangunnya dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Keberadaan bagas godang dalam kehidupan masyarakat Mandailing tidak serta merta menjadi bentuk rumah tradisional masyarakat Mandailing secara luas, hal ini dikarenakan bagas godang merupakan rumah utama yang berada dalam satu kampung, rumah tempat tinggal masyarakat Mandailing lainnya berbentuk seperti bagas godang namun memiliki perbedaan dari sisi jumlah anak tangga dan penggunaan jendela serta bahan. Rumah masyarakat Mandailing pada umumnya memiliki jumlah anak tangga genap dan berada di sisi luar kampung sedangkan bagas godang memiliki jumlah anak tangga ganjil serta dipenuhi ornamentasi yang memiliki nilai dan kehidupan Masyarakat Mandailing.
Nilai budaya masyarakat Mandailing memiliki pandangan bahwa jumlah ganjil memiliki nilai tinggi dalam kehidupan dibandingkan dengan jumlah genap, hal ini tidak saja terbatas pada arsitekur bagas godang melainkan juga berlaku pada hal lainnya seperti gordang sambilan (sembilan gendang) yang memiliki nilai tinggi dalam budaya Mandailing.
Bagas godang memiliki arti bahwa di wilayah (huta) tersebut merupakan bona bulu atau sebagai suatu wilayah yang memiliki sistem pemerintahan tersendiri, bagas godang diperuntukkan sebagai rumah tempat tinggal bagi raja yang memerintah bona bulu tersebut dan dalam kehidupan masyarakat Mandailing kehadiran bagas godang disertai dengan adanya sopo godang yang berfungsi sebagai tempat pertemuan.
Lingkungan bagas godang juga memiliki halaman yang luas yang disebut dengan alaman bolak atau alaman silangse utang, secara harfiah dapat diartikan sebagai halaman yang melindungi seseorang dari permasalahan, seperti utang-piutang. Bagi individu yang memiliki utang dan sedang dikejar oleh penagih utang tersebut maka individu tersebut dapat masuk ke alaman bolak sehingga individu tersebut tidak dapat diganggu dan menjalani proses perdamaian untuk menyelesaikan permasalahannya.
Bagas godang merupakan tempat tinggal bagi raja panusunan ataupun raja pamusuk yang juga merupakan pemimpin huta tersebut, dan bentuk bagas godang bagi raja panusunan pada umumnya lebih besar dari bagas godang bagi raja pamusuk.
Pemahaman secara adat, bagas godang merupakan representasi bona bulu yang berarti bahwa huta tersebut telah dilengkapi dengan adanya unsur dalihan na tolu (kekerabatan), namora natoras (pemimpin), datu (dukun), sibaso (dukun pengobatan), ulu balang, panggora dan raja pamusuk yang berperan sebagai raja dalam sistematika adat.
Bagas godang selain sebagai tempat tinggal bagi raja juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anggota masyarakat dari permasalahan dan selama berada di bagas godang keamanan anggota masyarakat dijamin oleh raja.
Bagas godang secara struktur bangunan merupakan bangunan berbentuk empat persegi panjang yang menggunakan atap seperti bentuk atap pedati (berbentuk segitiga) yang disebut sebagai tarup silengkung dolok. Bagas godang merupakan bangunan tempat tinggal yang terbuat dari kayu dan atap dari ijuk, bagas godang termasuk dalam klasifikasi rumah panggung yang memiliki kolong.
Untuk dapat memasuki bagas godang terlebih dahulu melalui tangga, dimana jumlah anak tangga bagi bagas godang raja panusunan berjumlah sembilan sedangkan jumlah anak tangga bagi bagas godang raja pamusuk berjumlah tujuh anak tangga, tangga ini disebut dengan istilah tangga sibingkang bayo.
Setelah melewati anak tangga maka bagi yang ingin memasuki bagas godang akan disambut oleh dua belah pintu besar yang disebut sebagai pintu gaja marngaur atau gajah yang mengaum hal ini disebabkan pintu besar tersebut akan berbunyi keras ketika dibuka ataupun ditutup. Bunyi keras yang ditimbulkan oleh dua belah pintu besar itu juga berfungsi sebagai penanda bahwa ada seseorang yang datang maupun pulang berkunjung dari bagas godang.
Pembagian tata letak dalam kompleks bagas godang terdiri dari pintu gerbang, sopo jago, sopo godang, bagas godang, sopo eme, sopo godang dan alaman bolak, bagas godang juga memiliki tata ruang yang terdiri dari empat ruang, yaitu ruang depan, ruang tengah, ruang tidur (kamar) dan dapur. Besar dan kecilnya sopo jago, sopo eme serta sopo godang disesuaikan dengan ukuran bagas godang yang terdapat diwilayah tersebut.
Sopo jago merupakan tempat pemuda berkumpul untuk bercengkrama dan juga sebagai pos keamanan bagas godang, sedangkan sopo godang adalah tempat meletakkan gordang sambilan, peralatan seni dan perlengkapan adat lainnya. Sopo eme adalah tempat penyimpanan beras atau lumbung padi yang difungsikan sebagai penyimpanan padi untuk kepentingan masyarakat.


Ornamentasi Bagas Godang; Vernakular dan Arti Simbol
Ornamen yang terdapat pada bangunan bagas godang selain sebagai bentuk yang memiliki fungsi vernakular bangunan juga memiliki arti simbol yang berakar pada nilai budaya Mandailing. Fungsi vernakular bangunan bagas godang disesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungan dimana bagas godang tersebut dibangun.
Bangunan bagas godang selain sebagai tempat tinggal juga memiliki nilai budaya Mandailing yang disematkan pada ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan bagas godang, dimulai dari atas pintu masuk utama bagas godang terdapat ornamen matahari bersinar yang berarti sebagai simbol kekuatan, penerangan, rezeki dan kehidupan. Pada bagian penutup sisi atap yang berbentuk segitiga diatas tangga depan bagas godang disebut sebagai alo angin (tamparan angin) atau tutup ari yang berarti sebagai hubungan kekerabatan.
Pada bangunan bagas godang terdapat beberapa ornamentasi yang memiliki arti dan berakar pada nilai budaya Mandailing, seperti :
  1. Mata ni Ari (berbentuk seperti matahari, terdapat diatas pintu masuk dan di atap bagian muka), bentuk ini menyimbolkan sifat seorang raja yang menyerupai sifat matahari yang menerangi dan memberikan kehidupan kepada semua anggota masyarakat,
  2. Bulan (terdapat pada atap bagian muka), simbol ini berarti bahwa di huta tersebut terdapat datu dan sibaso dengan kemampuan membaca peredaran bulan dan bintang sebagai dasar dalam kegiatan pertanian, perkawinan, horja (kerja), perang dan sebagainya,
  3. Bintang (terdapat pada atap bagian muka), sebagai simbol yang merujuk pada sikap menerangi kehidupan masyarakat oleh fungsionaris adat dan juga sebagai tanda kemampuan melakukan perhitungan peredaran bintang,
  4. Rudang (berbentuk seperti bunga), simbol ini memberikan arti bahwa di huta tersebut sudah memiliki kelengkapan adat,
  5. Panji (berbentuk seperti bendera), berarti bahwa penduduk di huta tersebut telah mengerti aturan dan norma adat yang berlaku,
  6. Raga-raga (berbentuk garis silang seperti huruf X), menyimbolkan sikap masyarakat yang berhubungan antara satu dan lainnya dalam lingkup tolong-menolong,
  7. Suncang Duri, adalah simbol yang berarti bahwa huta tersebut memiliki kewajiban untuk menerima dan membantu pendatang yang masuk serta membekali pendatang tersebut apabila meninggalkan huta,
  8. Jagar, berarti bahwa huta tersebut memiliki perangkat yang lengkap sebagai sebentuk huta yang dipimpin seorang raja,
  9. Sipatomu-tomu, sebagai simbol bagi raja untuk memelihara rasa kasih sayang, persatuan dan kesatuan diantara anggota masyarakat,
  10. Podang (pedang), sebagai simbol penegakan hukum di huta tersebut,
  11. Takar (tempurung), adalah simbol keadilan di huta tersebut berlangsung seimbang tanpa membedakan dan juga memiliki arti sebagai simbol arah mata angin,
  12. Tanduk ni horbo (tanduk Kerbau), merupakan simbol kekuatan adat dan kerajaan,
  13. Tangan, sebagai pertanda kondisi huta tersebut aman dan rukun serta penduduk terhindar dari mara bahaya dikarenakan adat terpelihara dengan baik,
  14. Bindu, simbol kekuatan kekerabatan diantara anggota masyarakat,
  15. Bona Bulu, sebagai simbol huta tersebut telah lengkap susunan masyarakatnya dan dipimpin oleh raja yang juga memiliki susunan pemerintahan yang lengkap,
  16. Alaman Bolak/Alaman Silangse Utang, halaman lebar yang terdapat dalam kompleks bagas godang dan sebagai wilayah kekuasaan raja yang memberikan jaminan keamanan kepada anggota masyarakat yang memasukinya.

Penutup
Keberadaan rumah tradisional bagas godang saat ini sudah sangat berkurang dikarenakan lahan pertapakan bagas godang dijual oleh ahli waris pemilik dan juga runtuh digantikan dengan struktur bangunan modern yang menghapus nilai tradisional bagas godang, dengan sedikitnya jumlah bagas godang maka hal ini akan menyulitkan bagi generasi berikutnya untuk dapat mengetahui mengenai bagas godang secara utuh dan menyeluruh.
Berkurangnya jumlah bagas godang menyadarkan pada tiap individu untuk melestarikannya sebagai sebentuk usaha menjaga nilai-nilai tradisi luhur yang dapat menjadi modal budaya dalam kontestasi budaya secara global, selain itu kekayaan simbol dan ornamentasi bagas godang menjadi bukti kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Mandailing.
Bagas godang sebagai sebentuk rumah tempat tinggal juga dapat menjadi pembelajaran mengenai nilai budaya Mandailing bagi masyarakat luas, tidak saja mengetahui mengenai bentuk arsitektural melainkan juga dapat mengetahui sistem pemerintahan, simbol dan perilaku masyarakat Mandailing yang terbentang luas dan beragam bentuk serta menjadi sumber kekuatan kebudayaan secara nasional.

Daftar Pustaka

Lubis, Zainuddin, 1987. Na Mora Na Toras : Pemimpin Tradisional Mandailing. Medan : Skripsi

Sarjana S1 Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik – Universitas Sumatera Utara 

(tidak diterbitkan).

Senin, 19 Desember 2016

Mimesis; Membaca Kultur Politik Kaum Muda




MIMESIS; Membaca Kultur Politik Kaum Muda


Ibnu Avena Matondang





Perilaku Politik Kaum Muda dalam Perspektif Antropologi

14 Mei 2014


R. Sidang FISIP – USU














That I feel inside, I'm tired of all the lies

Don't nobody know why
It's the blind leading the blind
. . .
We are, we are youth of the nation
(Youth of the Nation - Payable on Death).




Pengantar
Pemilu legislatif yang telah berlalu menyisakan beragam pertanyaan yang terkait dengan kurangnya minat masyarakat untuk turut serta memberikan “suara”, dalam hal ini yang menjadi perhatian penting adalah sumbangsih “suara” oleh kalangan kaum muda yang masih terbilang kecil dari segi jumlah.
Imitasi sosial adalah salah bentuk perilaku politik yang dilakukan oleh kaum muda secara umum, hal ini didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan politik kaum muda yang bersifat terbatas. Selain itu minimnya informasi mengenai latar-belakang, visi dan misi calon legislatif yang berkompetisi dalam ajang pemilu turut menguatkan perilaku imitasi sosial pada kaum muda ini.
Rentang usia yang tercipta antara kaum muda sebagai pemilih dengan kaum dewasa sebagai dipilih turut berkontribusi besar terhadap keengganan kaum muda untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pemilu.
Tulisan ini akan mendiskusikan mengenai keikutsertaan kaum muda sebagai bentuk perilaku politik dari sudut pandang kultural.


Kaum Muda dan Kultur dalam Perilaku Politik
Kaum muda memiliki kehidupan dengan perspektifnya tersendiri, dan juga diidentikkan dengan sifat energik, minim pengalaman, bebas. Bentuk kehidupan tersebut haruslah dibaca dari sudut pandang anak muda juga.
Terdapat suatu pandangan umum mengenai posisi kaum muda yang terkadang menjadi “jebakan” dalam perkembangan sosial, kultural dan politik kaum muda. Pandangan mengenai kaum muda dalam strata keluarga yang dianggap sebagai generasi penerus (memuat nilai, perilaku dan pemikiran) yang sama dengan “keinginan” orangtua atau dianggap sebagai patron orang tua - anak, menyebabkan kaum muda memiliki beban dalam membentuk perkembangan sosial, kultural dan politik.
Historis kultural memberi deskripsi mengenai kaum muda yang memiliki pengaruh dari beragam latar belakang kebudayaan di beragam wilayah, kaum muda dianggap sebagai generasi yang memiliki pengaruh dan kemampuan mumpuni serta dianggap sebagai representasi masa depan. Kenyataan ini seakan pudar melihat kenyataan terhadap keberadaan kaum muda (khususnya dalam perilaku politik) yang dianggap punah dan sirna.
Kaum muda yang terentang usia mulai 16 tahun hingga 30 tahun1 dalam komposisi masyarakat secara luas menempati posisi bawah dalam kegiatan politik di negeri ini, beragam posisi strategis diduduki oleh kaum dewasa dari segi usia. Kondisi ini membawa pengaruh yang signifikan dalam menentukan perilaku politik kaum muda pada masa-masa mendatang.
Pandangan mengenai kaum muda yang memiliki energi besar, kemauan, bebas dan minim pengalaman justru tidak dijadikan sebagai modal untuk turut serta dalam kegiatan politik melainkan dipergunakan sebagai bentuk floating mass dalam keadaan dan posisi tertentu oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Keikutsertaan kaum muda dalam pemilu 2014 dijadikan sebagai percontohan terhadap suara kaum muda secara umum, namun hal ini membutuhkan durasi waktu yang panjang untuk sampai pada tujuan, yaitu keikusertaan kaum muda dalam politik secara aktif.


Mimesis: Kultur Politik Anak Muda
Secara kultural, perilaku politik kaum muda pada pemilu 2014 dilihat sebagai bentuk perilaku imitasi sosial yaitu perilaku meniru/mencontoh tanpa disertai adanya pengalaman dan pengetahuan yang memadai akan hal tersebut. Hal ini tergambar dari keikutsertaan kaum muda dalam pemilu 2014 dalam jumlah terbatas dan kegamangan kaum muda dalam memilih calon legislatif yang mereka pilih.
Imitasi sosial yang dilakukan oleh kaum muda merupakan bagian dari pola perilaku mimesis sederhana, yaitu suatu pola perilaku mencontoh dari mediator2 (melalui: pengenalan dini, pendidikan politik skala kecil).
Mimesis sebagaimana dikemukakan Girard (1966) sebagai bentuk pengaruh mediator terhadap aktor dalam menentukan pilihan dan juga memberikan kebebasan pilihan tersendiri bagi keduanya. Imitasi sosial dalam perilaku politik kaum muda justru tidak bergerak dan berkembang menjadi suatu pola mimesis yang dapat menjadikan kaum muda sadar akan perilaku dan pilihan politiknya.
Untuk dapat mengembangkan dan menjadikan kaum muda sadar akan perilaku dan pilihan politiknya, diperlukan adanya pendidikan politik bagi kaum muda dengan perspektif youthsphere yang selama ini hanya terbatas pada konteks menjelang pemilu. Pada masa-masa setelah pemilu, justru pengenalan dan pendidikan politik bagi pemula (kaum muda) tidak berjalan lancar bahkan cenderung ditutup.


Mimesis pada kaum muda terbatas pada pengetahuan mendasar mengenai tata cara pemilih dan administrasi pemilu tanpa disertai dengan adanya pendidikan politik skala lanjutan dalam melihat latar belakang calon legislatif (yang akan dipilih), menilai calon legislatif berdasarkan visi dan misi bahkan juga mencapai mengenai tata cara pertanggung-jawaban calon legislatif kepada konstituen (apabila terpilih). Hal tersebut dapat diimbangi melalui pendidikan politik yang aktif dan bersih kepada para calon legislatif, sehingga dapat memandang kaum muda sebagai sumber suara yang potensial dan juga berkontribusi terhadap perkembangan perilaku politik kaum muda.
Perkembangan perilaku politik kaum muda yang menjadi bentuk imitasi sosial menjadikan kaum muda sebagai bagian dari silent generation yang terkesan menolak sistem dan menolak keikutsertaan dalam ranah politik (praktis) serta terkesan tidak peduli dengan keadaan, kecenderungan perkembangan ini disatu sisi mampu membangun kesadaran pemuda akan situasi sosial dan politik namun disisi lain hal ini menjadi bentuk legitimasi terhadap ketidakhadiran (terbatas) peran kaum muda dalam perjalanan politik di negeri ini.

Penutup
Kaum muda membutuhkan ruang untuk mengekspresikan kegiatan politik (yang selama ini terbatas, baik secara usia dan pengalaman), hal ini dapat diatasi dengan penggunaan pendekatan kultural kaum muda melalui adanya pengenalan dan pendidikan politik sejak dini dan berkelanjutan.
Pendekatan kultural pada perilaku politik kaum muda dapat dimulai dengan memberi pengenalan pada dunia politik melalui cara-cara sederhana dan menyentuh perspektif kaum muda (youtsphere) yang memiliki nilai-nilai kemauan, penuh ketertarikan, berani dan bebas. Membuka kesempatan pada kaum muda untuk turut serta pada beragam kegiatan politik dapat menjadi nilai terhadap pengakuan keberadaan kaum muda dengan perilaku politiknya.
Keberadaan kaum muda dengan perspektif dan problematikanya menyimpan potensi besar dari segi jumlah, ide, perilaku yang kelak akan menentukan masa depan politik bangsa ini.
Penting untuk melihat kaum muda sebagai representasi masa depan yang hadir pada masa kini, dengan kemampuan yang terus diasah melalui perjalanan waktu menjadikan kaum muda yang memiliki perilaku politik aktif dan mewarnai perjalanan politik di negeri ini.




Referensi


Girard, R. (1966), Deceit, Desire and the Novel: Self and Other in Literary Structure. Engl. Translation 


by Y. Freccero (Baltimore: Johns Hopkins University Press).




Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan




Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, 


Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah


1Undang-undang Kepemudaan Nomor 40 tahun 2009 Pasal 1 Ayat 1 mengenai batasan usia pemuda Indonesia, bandingkan dengan usia minimal pemilih menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 25 yang berbunyi : “Pemilih adalah Warga Negara Indonesia yang telah genap berusia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin”.
2Mediator dalam konteks ini bisa berupa individu atau kelompok yang memiliki kaitan dengan aktor ataupun tidak, baik secara langsung maupun tidak langsung.