Matinya Kritikus Musik
Avena Matondang[1]
Pengantar tulisan ini berawal dari sebuah status rekan facebook yang merupakan “kritikus musik Indonesia”, tidak perlu disebutkan namanya di forum ini karena biarlah tulisan ini menjadi ajang pembelajaran bagi setiap individu untuk mengomentari karya orang lain. Sejatinya kritikan selalu disertai dengan masukan agar dapat menjadi dorongan maju kedepan, bukan mengeluarkan kritik hanya berdasarkan satu sisi saja.
Kritik; penting atau tidak
Proses kritik mengkritik di
Kritikan pada satu sisi adalah suatu proses memberikan apresiasi terhadap karya orang lain dengan memberikan masukan untuk memajukan suatu karya orang lain maupun sebagai pendorong kearah yang lebih progressive.
Kritik tidak menjadi suatu keharusan dan dilakukan ketika hanya berdiri dari suatu sudut kepentingan, seperti melihat sebuah rumah tanpa melihat dalam rumah tersebut dan langsung memberikan kesimpulan !.
Proses kritik mengkritik terjadi diseluruh lini kehidupan tidak terkecuali pada aspek musik, dimana setiap saat selalu dihujani kritik terhadap nilai musikalitas seseorang atau kelompok, parahnya kritik mengkritik dilakukan oleh mereka-mereka yang konon kabarnya memiliki referensi musik melebihi ambang batas ?.
Setidaknya sebelum memberikan kritik terlebih dahulu pikirkan terlebih dahulu bagaimana mengapresiasi karya musikal seseorang atau grup dari sudut pandang yang berimbang, baik dari segi teknis maupun non-teknis.
Kegeraman terhadap proses kritik musik pop
Apabila kita membaca resensi musik di berbagai majalah, koran, internet dan media lainnya di Indonesia, apakah kita pernah bertanya pada diri sendiri “bagaimana kalau kita berada pada posisi yang dikritik ?”, mungkin hal ini jarang dilakukan mengingat hidup di negara ini selalu didasarkan pada satu hal yang bersifat kesatuan dan persatuan sehingga kata satu adalah kalimat yang ampuh untuk menelanjangi karya orang lain.
Geram adalah kata yang pas untuk menggambarkan proses kritik dan mengkritik karya musik di Indonesia karena tukang kritiknya tidak lebih dari sekedar “pokrol bambu” atau “tukang koyok” yang jual omong tanpa memperlihatkan kemampuan musical.
Ketika berbicara plagiarisme, mengapa semua mata pengamat musik
Tindakan mengomentari suatu karya musik dengan kalimat, antara lain :
“wah performancenya kacau !”,
“gitarisnya salah pencet senar”,
“suara vokalisnya gak bagus, ditutupin dengan teknik falsetto biar gak keliatan buruk”,
“pemain drumnya gak bisa jaga tempo”,
dan lain sebagainya kerap terdengar ditelinga baik ketika menikmati musik langsung maupun tak langsung, tapi apakah kita sadar ada beragam pemikiran, suasana, psikologis dibelakang panggung yang tidak kita ketahui sebagai seorang penonton atau penikmat musik, atau apakah kita pernah mendengar jenis vokalisasi gaya Tibetian atau gaya Palestrina kemudian bandingkan dengan vokalisasi a’la pesisir pantai barat Indonesia yang disalah-kaprahkan menjadi cengkok melayu, sontak akan terjawab dengan kalimat “musik apa ini ? gak jelas”, “ihk nyanyi nya nadanya gak pas”, dan lain sebagainya dari mulut mereka yang tidak mengerti dan hidup dalam kritik satu sisi, namun jawaban berbeda akan kita temukan pada “wah musiknya agak-agak aneh ! harus cari referensi tentang musik ini” atau “wah, temponya ganjil”, jawaban-jawaban ini akan muncul dari mulut mereka yang mengerti akan nilai suatu karya musik dan paham akan kritik dan saran dalam apresiasi musik.
[1] Pemusik dan Apresiator Musik, tinggal di Medan.
0 komentar:
Poskan Komentar