Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

BAGAS GODANG; Simbol Ornamentasi Rumah Tradisional Mandailing

Pengantar Individu manusia dari berbagai suku yang tersebar di penjuru dunia memiliki kekayaan tradisi yang sangat beragam, kekayaan tradisi tersebut meliputi : kesenian, pengetahuan lokal, arsitektur, teknologi dan lain sebagainya yang juga berfungsi sebagai suatu penanda atau karakteristik suatu suku. Pemahaman mengenai kekayaan tradisi itu juga mencakup mengenai pengetahuan mengenai tempat tinggal atau pada umumnya dikenal dengan rumah. Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga memiliki pemaknaan lain yang berkaitan dengan sistem nilai tradisi yang berlaku pada masyarakat tersebut, dalam tulisan ini dibahas mengenai rumah tradisional masyarakat Mandailing. Dalam terminologi masyarakat Mandailing, rumah disebut sebagai bagas godang yang secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah besar. Bagas godang masyarakat Mandailing memiliki beragam nilai budaya yang tersimpan dalam arsitekural bangunan bagas godang, nilai budaya tersebut berperan sebagai pandangan hidup masyarakat Ma…

Mimesis; Membaca Kultur Politik Kaum Muda

MIMESIS; Membaca Kultur Politik Kaum Muda

Ibnu Avena Matondang




Perilaku Politik Kaum Muda dalam Perspektif Antropologi
14 Mei 2014

R. Sidang FISIP – USU













That I feel inside, I'm tired of all the lies
Don't nobody know why It's the blind leading the blind . . . We are, we are youth of the nation (Youth of the Nation - Payable on Death).



Pengantar Pemilu legislatif yang telah berlalu menyisakan beragam pertanyaan yang terkait dengan kurangnya minat masyarakat untuk turut serta memberikan “suara”, dalam hal ini yang menjadi perhatian penting adalah sumbangsih “suara” oleh kalangan kaum muda yang masih terbilang kecil dari segi jumlah. Imitasi sosial adalah salah bentuk perilaku politik yang dilakukan oleh kaum muda secara umum, hal ini didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan politik kaum muda yang bersifat terbatas. Selain itu minimnya informasi mengenai latar-belakang, visi dan misi calon legislatif yang berkompetisi dalam ajang pemilu turut menguatkan perilaku imitasi sosial p…

Seingatku, memang seperti ini (!)

Sekitar lima tahun yang lalu ketika aku selesai menamatkan studi strata satu dan sambil mocok-mocok (kerja serabutan) bersama salah seorang dosen terselip satu pembicaraan yang cukup kuingat hingga kini dan kuyakini bahwa percakapan itu benar adanya hingga saat ini. Tersebutlah pada siang yang panas, dosen itu berkata “abis tamat ini mau kemana kau Nu ?” Katanya kepadaku, langsung aku menjawab “lanjut kuliah lah mungkin, kalau ada duit”, ia langsung menyergah dan berkata “ngapain kau kuliah lagi, bagus kau duduk di ruangan itu (sambil menunjuk salah satu ruangan seperti perpustakaan dimana buku-buku berserakan), kau baca itu semua sampai habis, keluar dari sini udah setara doktor kau itu, percayalah !.” Katanya padaku. Sugest itu berlaku dalam kurun waktu tahun-tahun berikutnya, hari demi hari kuhabiskan duduk di ruangan itu mengerjakan pekerjaan dan sambil membaca buku demi buku, dari filsafat merambat ke agama kemudian menjalar ke novel bertautan pada studi kebudayaan hingga berbata…

Mitos

Dalam suatu diskusi beberapa waktu yang telah lalu, kata “mitos” menurut salah seorang peserta diskusi “janganlah disalahartikan, ketahui apa beda diantara; mitos, legenda, cerita dan lain sebagainya,” mungkin ada benarnya pendapat ini akan tetapi mungkin sebanding juga dengan salah yang dimiliki pendapat ini. Mitos, selalu diulang-ulang dalam kehidupan, percakapan “pinggir paret” hingga percakapan “ruang kelas” pun tak luput membahas fenomena mitos ini. Tapi siapa yang menyangka ketika diskusi mengenai mitos ternyata “lebih ke mitos” daripada “lebih ke strukturalism.” Kenapa jadi strukturalis ? Karena strukturalis merupakan dasar pijakan untuk membahas lebih lanjut mengenai mitos. Vico, Jakobson, Saussure, Derrida, Levi-Strauss, Barthes adalah nama-nama yang berkelebat dalam setiap pembahasan mengenai struktural (dengan tidak menafikkan beberapa nama lainnya). Bagi sebahagian orang, melihat bahkan mendengar nama-nama tersebut bertanya-tanya dan kadangpula merasa pening sesaat. Tidak…

Me-merdeka-kan Lapangan Merdeka; Tulus atau Latah ?

Beberapa waktu ini, wacana me-merdeka-kan Lapangan Merdeka – Medan kembali muncul seiring dengan telah berdirinya bangunan bertingkat dua di salah satu sisi lapangan merdeka – Medan yang diperuntukkan bagi pedagang buku dan lokasi parkir. Sebuah wacana 'klasik' yang selalu saja diperdebatkan antara estetika ruang versus fungsi; realitas versus persepsi yang bertelikung-selingkuh antara motif ekonomi-politik lokal yang terus-menerus “digoreng” untuk menuai sekedar pencitraan atau apapun namanya. Kemunculan wacana ini juga diikuti oleh kemunculan beragam pihak (individu—kelompok) yang mengatasnamakan kepentingan aksesbilitas ruang publik hingga pada kepentingan historis romantis nihil (!). Sejatinya, Lapangan Merdeka – Medan yang awalnya disebut sebagai Medan Esplanade tersebut adalah konstruksi arsitektural yang dibawa oleh pihak kolonial untuk menciptakan romantisme daerah asal para penggerak roda kolonial; aparat pemerintahan, dan pengusaha agar dapat memenuhi kebutuhan psi…