Postingan

Menggali Diri Menemukan Inti; Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan

 [review] Webinar 1000tenda seri 3       Menggali Diri Menemukan Inti; Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan       Avena Matondang                   Percakapan sore hari dipercaya sebagai bentuk komunikasi yang hangat begitupun dengan webinar berjudul Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan yang dihelat oleh 1000tenda, RKI, FES dan Kemenko PMK sebagai strategi work from home menghadapi wabah covid-19 yang turut mengurungkan beberapa kegiatan perkemahan anak muda 1000tenda yang sejatinya dilaksanakan sebagai kegiatan luar ruang. Tanpa meninggalkan tujuan utama kegiatan 1000tenda berupa edukasi generasi muda yang peduli lingkungan dan kompleksitas wacana kehidupan kaum milenial.             Perhelatan diskusi virtual Pekerjaan Anak Muda di Masa Depan menghadirkan sosok Muhammad Faisal yang berkecimpung dalam dunia ...

HUTA; Gondang Kampung Halaman

Pandemic For Arts seri #3 HUTA; Gondang Kampung Halaman Avena Matondang Selasa (2/6/2020) menjadi hari penyelenggaraan Pandemic For Arts seri ke 3 yang mengangkat tema Huta sebagai representasi seni pertunjukan Tapanuli Utara. Pandemic For Arts yang ditujukan sebagai kanal seni pertunjukan virtual dalam situasi wabah covid-19 yang melanda seluruh dunia, tak terkecuali Sumatera Utara. Pandemic For Arts selain sebagai strategi pertunjukan seni tradisi ditengah wabah covid-19 juga menjadi pertautan tradisi dalam konstelasi kontemporer yang mestizo, kehadiran tradisi tak selalu identik dengan geografis kultural melainkan pula dapat menjadi penghadiran kultural pada dimensi megapolitan Kota Medan, Pandemic For Arts seri 3 yang direncanakan berlangsung di Tarutung mendadak diubah di Kota Medan sebagai bagian protokol kesehatan wabah covid-19 yang mengharuskan karantina bagi pendatang, hal ini tak menjadi persoalan pelik bagi organisatoris Pandemic For Arts mengingat kebijakan tata kehid...

Mengayuh Asa di Kaldera Toba; Tourisme dan Kesehatan (1/2)

Mengayuh Asa di Kaldera Toba; Tourisme dan Kesehatan Avena Matondang Kondisi pandemi covid19 secara global telah memaksa beberapa dimensi hidup terkendala untuk dilakukan sebagai salah satu upaya meminimalisir timbulnya korban penyebaran virus covid19. Dalam skala prioritas kondisi pandemi covid19, situasi yang melanda Indonesia pada akhir bulan Januari hingga hari ini (bulan September), delapan bulan kondisi pergerakan yang terbatas menyebabkan munculnya konsepsi "new normal" dalam kehidupan; suatu kondisi kenormalan baru (?) menghadapi dengan taktis dan strategis penyebaran covid19 dalam kehidupan. Upaya yang dilakukan memasuki kenormalan baru ini adalah diadakannya Geobike Caldera Toba #6 tahun 2020 sebagai upaya mendorong dimensi turisme Indonesia secara umum dengan dampak pada gerak roda kehidupan kembali pada rotasi seperti sebelumnya. Geobike Caldera Toba yang dibesut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Rumah Karya Indonesia mengusung konsep bersih, seha...
Gambar
Covid-19; Perspektif Etnoepidemiologik Diskusi Virtual 1/06/2020 jam 15.00-16.00 (+-15 menit) Diskusi virtual yang diinisiasi oleh Prof. Usman Pelly, P.hD sebagai bagian kontribusi keilmuan antropologi untuk masa wabah Covid-19 ini mengetengahkan suatu persoalan perspektif kultural untuk menghadapi Covid-19 sebagai suatu pertemuan lintas keilmuan antropologi dan medis kedokteran mencakup pula institusi pemerintah sebagai regulator kesehatan di negeri ini.  Kehadiran 4 narasumber; Prof. Usman Pelly, P.hD., dr. Maskur Ramadhan Gani, Avena Matondang dan dr. Kevin Imansyah Harahap (yang berhalangan hadir karena bertugas di rumah sakit) dimaksudkan untuk mempertemukan lintas keilmuan yang solutif terhadap fenomena wabah Covid-19. Paparan Prof. Usman Pelly, P.hD mengetengahkan pendekatan kultural yang adaptif terhadap kebijakan secara geografis (geo-politik secara administratif) terhadap penanganan wabah Covid-19, semisal perbandingan data secara kuantitatif mengenai nil...

Tao Silalahi Arts Festival 2019; Urdot Kultural Anak Muda

Gambar
Perjalanan kultural adalah pengalaman yang tak dapat tergantikan dengan hal apapun, idiom ini juga berlaku pada kegiatan Tao Silalahi Arts Festival 2019 yang berlangsung pada tanggal 6 hingga 8 September di Silalahi, Kabupaten Dairi. Kegiatan Tao Silalahi Art Festival yang dihadiri oleh 9.253 orang sebagaimana dicatat oleh panitia TSAF 2019 dan Rumah Karya Indonesia (RKI) ini merupakan suatu pencapaian yang menggairahkan dalam perspektif gerak pariwisata Sumatera Utara yang stagnan dan berorientasi pada keuntungan finansial menanggalkan sisi kultural masyarakat tempatan. Tao Silalahi Arts Festival tidak menawarkan aspek kemewahan dan hospitality berlebihan layaknya kegiatan pariwisata secara umum melainkan menyuguhkan suatu pengalaman intrinsik secara personal sebagai cara membuktikan kegundahan generasi muda terhadap keberlangsungan kultur tradisi yang selama ini menjadi konsumsi golongan usia dan status sosial tertentu. Keberagaman akan latar belakang usia, jenis kelami...

1000tenda dan Absurditas Kaum Milenial

1000tenda dan Absurditas Kaum Milenial Banyak yang mengejek kaum milenial dari keterikatan pada gadget , sikap individual hingga miskin wacana, berangkat dari ejekan itu muncul jawaban menepis segala keraguan terhadap kaum milenial, yakni kegiatan 1000tenda di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba-Samosir. Desa yang harus dicapai oleh keinginan yang kuat karena terbatasnya akses transportasi dari dan menuju desa tersebut serta tentu saja akses jaringan internet yang terbatas (!). Beragam keterbatasan itu didobrak oleh kaum milenial dengan unjuk praktik; kebersihan, berwacana politik, jaringan yang luas, berbaur dan hal lainnya berlawanan dengan sikap skeptis generasi sebelumnya. Kegiatan 1000tenda di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba-Samosir tidak hanya sekedar anjangsana pada kehidupan luar-ruang layaknya kegiatan camping lainnya melainkan pula membawa misi mencerdaskan kaum milenial dengan tetap menautkannya pada elemen kultural yang hakiki tanpa haru...

Pandora Perbincangan; Brutal di Akhir Pekan

Terhitung beberapa hari yang lalu dalam satuan minggu, ada dua acara penting yang menjadi pokok perkara narasi ini; bedah buku berjudul “Panca In Dira/PID” karya Roby Fibrianto Sirait dan forum berbagi “What the Folk; Folk Musik Musnah?.” Kedua acara ini mengetengahkan persoalan mendasar mengenai ideologi dan filsafat seni yang mulai pudar ditengah perbincangan seni yang selalu memperbincangkan remeh-temeh seperti katak dibalik tempurung. Satu persoalan yang dibedah dalam ruang gawat darurat seni berupa buku “Panca In Dira/PID,” buku yang menuliskan tentang kisah antara dua anak manusia berbeda organ genital yang didekatkan tidak hanya oleh kisah romantism percintaan ala “Romeo dan Juliet” melainkan pula kisah percampuran antara kisah “Macbeth” dan “Around the World in 80 Days.”  Kompleksitas ide yang dituturkan secara brilian oleh penulis menghantarkan pembaca pada pengalaman ekstraterestrial yang membumi, tidak berupa pengalaman bertemu U.F.O ataupun dialektika bumi dat...

Pekak-pekak Badak; Wacana Seni Pop Kota Medan

Seni, kata yang sering diucapkan senafas dengan kata budaya, walau absurd ketika mengatakan bahwa seni adalah budaya atau vice versa . Memang kenyataannya di negeri gemah ripah loh jinawi dan kota kecil bersemboyan “Medan Rumah Kita” ini pengertian seni umumnya dipadankan dengan kata budaya untuk menegaskan bahwa proses kegiatan seni berangkat dari respon ekologis masyarakat yang pada praktiknya sering disalahartikan; entah karena ketidaktahuan secara pemikiran, entah pula karena kepentingan.      Seni itu multi kata; dari ke-seni-an hingga air seni, untuk memahami itu setidaknya unsur pemikiran dan tindakan harus selaras. Pembahasan mengenai wacana seni pop (meminjam dan menyingkat kata “populer—pop”) adalah bagian respon terhadap waktu yang harus diapresiasi bukan lantas dibubarkan dengan segala istilah pseudo academicus , lintasan waktu membuktikan tiap zaman memiliki kultur seni yang mendukung kultur seni sebelumnya atau mendekonstruksi kultur seni yang tela...

Arunika; Akar Bunyi Jalinan Nuswantara

Secepat kilat dan secepat emosi yang membumbung di langit-langit otak untuk menuliskan resensi mengenai penampilan Arunika malam ini (5/4/2018) di Caldera Coffee yang diinisiasi oleh Medan Creative Hub. Arunika yang merunut pada penuturannya telah berkreasi sejak 2017 masuk dalam kategori berhasil mempertunjukkan repertoir dengan apik dalam warna world music , walaupun wacana mengenai keabsahan world music masih terombang-ambing dalam lintasan zaman sebagaimana pernah dikemukakan dedengkot etnomusikologi, Bruno Nettl (2007, s urat elektronik pribadi kepada penulis bertarikh July 30, 2007 dalam membahas perbedaan antara antropologi musik dan etnomusikologi serta musik dan  world music ) sebagai bentuk “keperluan identitas” semata.   Repertoir demi repertoir yang dimainkan termasuk karya instrumental bertajuk “Akar” menengahkan problematika situasi terkini dalam bahasa musikal yang jernih dan sederhana dicerna oleh akal sehat, semisal lainnya repertoir “Raung Khatulisti...

POSEUR, IS THAT YOU ?

Beberapa hari lalu ketika acara peluncuran perdana Degil Zine di Burgerito diwarnai ludahan hujan yang melukis malam dengan warna rintik dan deras, sebenarnya aku sudah terlampau bosan untuk hadir di acara seperti itu tapi tak apa kurasa sebagai penanda dan kesediaan berhadir setelah diundang oleh gitaris merangkap vokalis Selat Malaka, Albert. Kenapa bosan ? Ya, rasa bosan yang menyeruak kurasa adalah hal yang wajar ketika kuping diperdengarkan dengan dentuman bunyi dan suara yang monoton; di jalanan, di televisi, itu-itu saja seperti tokoh legislatif di gedung kura-kura. Tapi tak apalah kurasa masih dalam taraf bosan, belum meningkat pada taraf memuakkan. Degil Zine yang baru muncul dalam arus peradaban kota penuh lubang dan kepura-puraan ini bisa jadi menjadi penawar kerinduan akan zine musik (walau aku berharap banyak zine ini tidak hanya berbicara musik melulu; melainkan sastra, budaya, sosial nir-politik praktis, dengan segala kenyinyiran paling radikalis bin anarkis...

Social Media Platform; Kedekatan yang Menjauh

Beberapa hari yang lalu di layar gawai elektronik besutan Steve Jobs hasil pemberian kembaranku menampilkan pesan elektronik via platform sosial media whatsapp “bro, bisa kirim artikel tentang jaringan komunikasi sosial untuk e-zine kampus ?” Kulihat asal pesan dari seorang rekan akademisi di seberang benua, kujawab pesan elektronik itu dengan “ok bro, aku kirim versi Indonesia ya, english nyusul. Judulnya Whatsapp; Kedekatan yang Menjauh. Antropologi Supermodern Konsep.” Balasan singkat “ok” dari rekan itu kuanggap persetujuan judul, istilahnya accepted bagi mereka yang terbuai angan-angan jurnal internasional (dilain waktu “mungkin” aku akan bercerita panjang tentang ini). Asal muasal judul artikel itu berasal dari pengamatan secara pribadi terhadap penggunaan platform sosial media pada gawai yang membenturkan pemahaman kultural dengan bahasa algoritma. (Mungkin) sudah umum individu menggunakan platform media sosial walau sering terjadi juga gawai dipenuhi beragam platform ...

Kongkow Sore dan Tetesan Hujan; Narasi Kebangsaan

Selasa (22/08/2017) yang lalu berkesempatan untuk hadir dalam kongkow-kongkow bersama cerdik pandai di kota ini; ada dosen, ada pejalan ( dervishes ), ada aktivis. Lengkap !. Tanpa berbasa-basi panjang dan lebar akhirnya diskusi dimulai diruang yang bebas merokok untuk mengakomodinir aspirasi tarikan rokok sambil berfikir. Diskusi ini menelaah kehidupan Indonesia pasca 72 tahun usia kemerdekaan sebagai Republik Indonesia. Diawal pengantar diskusi, moderator mengajukan beberapa pertanyaan pokok mengenai dinamika kehidupan Indonesia sekarang ini, dari lintasan politik dan tentu saja aspek reliji yang masih seksi untuk diperbincangkan lebih lanjut. Seorang dosen kemudian mengemukakan narasi panjang sebagai introduksi menuju pembahasan dinamika sosial, politik dan kultural Indonesia saat ini. Pecahan beragam narasi turut diperbincangkan dari fatwa reliji hingga fatwa pujangga, dari kertas perjanjian hingga kertas berwarna dan berharga pula. Setelah dosen tersebut menyelesaikan papara...

Smart Gadget or Idiot User

Gambar
Dimulai dari ketika zaman bersiap menghadapi era Y2K, aku sudah duduk manis dan menatap layar monitor berukuran 15” di salah satu warung internet di sudut Jalan Sekip Kota Medan, untuk sekedar bercengkrama melalui fasilitas sosial media mIRC internet relay chat , yang kupelajari sendiri dan bertanya dengan mereka yang di kiri atau kanan berbatas kayu sepandangan mata, bagaimana mengirim pesan, bagaimana masuk dalam forum hingga bagaimana menggunakan bot (kalau tidak mengerti dengan istilah bot , sila layari laman google karena ini bicara tentang teknologi dan bersifat teknis), membuat E-mail atau electronic mail yang dalam bahasa Indonesia disebut surat elektronik pun aku berusaha sendiri. Saat itu kupilih ekstensi .cbgb sebagai alamat email dikarenakan trend , style dan juga duniaku bersosialisasi yang pada umumnya pemusik punk dan sk8 pada masa itu. Perlu juga kuberikan apresiasi bagi mereka yang pada masa itu mau berlama-lama di depan layar monitor komputer untuk bela...

ini zaman plastik !

ini zaman plastik ! Awalnya, tulisan ini melihat realita saat ini yang diisi dengan kerja mata secara monoton dengan melihat layar berukuran kecil bila dibandingkan inci layar televisi, yaitu layar gawai yang memvisualkan beragam ombak berita yang siap menerjang isi kepala secara cepat, entah itu benar atau salah itu perkara belakangan. Bayangkan saja, pertikaian bisa muncul tidak hanya karena didasarkan atas perbedaan dukungan terhadap salah satu calon pemimpin daerah, melainkan juga perbedaan paradigma mengenai “dunia datar dan dunia bulat,” persoalan adab terbaru “komik” dengan konten perkelaminan.          Tulisan ini tidak akan membahas satu persatu soalan tersebut karena aku saja sudah lelah untuk membicarakan hidupku sendiri, seperti berteriak sendiri dalam kotak kubus tertutup. Akan tetapi, tulisan singkat ini bertujuan untuk menggugah kesadaran secara individual, akan suatu bentuk sadar diri, sadar posisi, bahkan sadar akan keberadaa...

Sebuah Catatan yang Tertinggal; Suatu Pengalaman Antropologi Kesadaran

Sebuah Catatan yang Tertinggal; Suatu Pengalaman Antropologi Kesadaran  Dalam kurun waktu setahun belakangan ini, aku secara personal bertemu dengan beberapa homo academicus yang setidaknya berada dalam ranah ilmiah; seniman, politisi, penyintas, dosen, aktivis dengan beragam latar belakang. Suatu keuntungan untuk dapat saling bertukar pendapat dengan mereka tersebut walaupun terdapat sedikit ke-enggan-an untuk berbicara lebih lanjut, terlebih pada isu politik yang telah berhasil menciptakan dikotomi secara permanen medio 2014 yang lalu. Awalnya aku berpegang teguh pada pandangan "setiap akademisi akan mampu berfikir secara kritis dan bertanggung jawab," begitulah yang kuyakini, walau pada suatu pembicaraan dengan seorang kerabat alumni perkuliahan mengatakan "tak semua seperti itu, ini hidup bang !" begitu katanya padaku. Seperti cairan pemutih yang kerap dipergunakan untuk membersihkan noda, kalimat kerabat itu berhasil membersihkan pemikir...

Medan Pertarungan; Ruang Publik dan Invenire

Medan Pertarungan; Ruang Publik dan Invenire Avena Matondang Mendayagunakan pendapat Habermas 1 (1987:319), ruang publik adalah cara menyalurkan kompleksitas kebudayaan sehingganya ruang publik adalah ruang sosial interaksi yang dikonstruksikan oleh ekologi kehidupan manusia. Mungkin akan berbeda ketika melihat ruang publik Kota Medan yang dijajah oleh keinginan penguasa, semisal trotoir jalan yang tidak berfungsi seperti sediakala atau bahkan menjadi objek okupasi ketua-ketua kecil dengan beragam dalih. Dalam hal ini, ruang publik adalah perebutan ruang yang memerlukan keinginan kuat untuk menjadikan ruang publik menjadi milik publik seutuhnya, baik dengan bentuk kerjasama internal antar-publik maupun kerjasama dengan institusi pemerintah (walau tidak bisa berharap lebih pada bentuk kerjasama ini !.) Selayaknya kata “M-E-D-A-N” yang merupakan arena, atau gelanggang yang tiap-tiap orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mempertunjukkan sesuatu h...

BAGAS GODANG; Simbol Ornamentasi Rumah Tradisional Mandailing

Pengantar Individu manusia dari berbagai suku yang tersebar di penjuru dunia memiliki kekayaan tradisi yang sangat beragam, kekayaan tradisi tersebut meliputi : kesenian, pengetahuan lokal, arsitektur, teknologi dan lain sebagainya yang juga berfungsi sebagai suatu penanda atau karakteristik suatu suku. Pemahaman mengenai kekayaan tradisi itu juga mencakup mengenai pengetahuan mengenai tempat tinggal atau pada umumnya dikenal dengan rumah. Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga memiliki pemaknaan lain yang berkaitan dengan sistem nilai tradisi yang berlaku pada masyarakat tersebut, dalam tulisan ini dibahas mengenai rumah tradisional masyarakat Mandailing. Dalam terminologi masyarakat Mandailing, rumah disebut sebagai bagas godang yang secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah besar. Bagas godang masyarakat Mandailing memiliki beragam nilai budaya yang tersimpan dalam arsitekural bangunan bagas godang , nilai budaya tersebut berperan sebagai pandangan hidup m...